Revegetasi Tanah-tanah Kritis dan Gerakan 1000 Buku untuk Anak Merapi

17 November 2012 by no comments Posted in Rilis Berita

Pada hari ini, Senin 16 Juli 2012, Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PPPM STPN) melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di Merapi.  Sebagaimana desain kegiatan pemberdayaan yang telah disusun, kegiatan pengabdian di Merapi ini merupakan bagian dari tanggungjawab moral bagi STPN sebagai salah satu perguruan tinggi yang berada di Yogyakarta untuk bersama-sama berbagi dengan masyarakat Merapi. Bukan sesuatu yang gemerlap atau bahkan hingar bingar, PPPM STPN mencoba untuk mengambil bagian memberikan sebuah semangat bagi korban erupsi Merapi untuk bangkit kembali melalui kegiatan revegetasi dan Gerakan 1000 Buku untuk anak Merapi.

Revegetasi tanah-tanah kritis adalah kegiatan yang lahir dari keprihatinan akibat banyaknya tanah-tanah yang semula produktif, namun akhirnya menjadi rusak akibat terjangan lava. Berkaitan dengan hal ini, PPPM STPN mendesain kegiatan yang bertema “Merapiku Hijau”. Kegiatan ini didesain untuk mendukung pemulihan ekologi pasca terjadinya erupsi merapi. Kegiatan ini diwujudkan dengan memberikan sumbangan bibit tanaman kepada masyarakat di desa-desa yang terkena dampak erupsi. Bibit tanaman yang diberikan diupayakan agar tidak semata memberikan manfaat secara fisik untuk konservasi tanah/lingkungan, tetapi juga bisa memberi manfaat sebagai tanaman produktif yang bisa menjadi tambahan sumber penghidupan masyarakat

Sementara itu kegiatan ‘Gerakan 1000 Buku untuk Anak Merapi’ merupakan kegiatan yang diarahkan untuk bisa menjadi pemantik semangat bagi anak-anak yang terkena dampak erupsi Merapi agar tetap antusias untuk selalu belajar dan menambah wawasan dengan membaca. Kegiatan ini diwujudkan dengan melakukan penggalangan buku untuk kemudian diberikan kepada anak-anak di Merapi. Buku-buku yang terkumpul akan diserahkan kepada perpustakaan-perpustakaan yang berbasis masyarakat yaitu perpustakaan yang secara formal bukan bagian dari perpustakaan sekolah atau instansi pemerintah. Hal ini dilakukan karena seringkali perhatian sudah lebih banyak diberikan kepada institusi-institusi formal semacam ini. Berlainan halnya dengan perpustakaan berbasis masyarakat yang seringkali kehadirannya benar-benar sebagai rintisan yang diinisiasi oleh masyarakat sendiri dan seringkali mengalami keterbatasan dukungan. Padahal keberadaan perpustakaan semacam ini sangat dibutuhkan karena lebih aksesibel untuk berbagai kalangan.

 

A. Dusun Petung dan Pemulihan Ekologi Pasca Erupsi

Senyum dan jabat tangan ramah menyambut kedatangan kami ke Dusun Petung, salah satu Dusun di wilayah Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman. Bapak kepala dusun, ibu-ibu dari Kelompok Tani Wanita Cipto Makmur dan beberapa orang pria setengah baya segera menghampiri kami sambil mengulurkan tangan. Tanpa dikomando, ibu-ibu segera menurunkan bibit-bibit jahe dengan penuh semangat dari bak mobil pick up dan memindahkannya ke samping pondok kayu yang menjadi tempat pelaksanaan seremonial revegetasi tanah-tanah kritis hari ini.

Jam menunjukkan pukul 10.15 ketika acara temu warga dimulai. Tiga lembar tikar yang digelar di atas lantai tanah yang sebagian tertutup abu merapi, memberikan kenyamanan tersendiri dari segala keterbatasan yang ada dari pondok berukuran 4×6 meter yang merupakan sisa erupsi merapi yang masih tegak berdiri ini. Penerimaan hangat dari warga sudah menjadi inspirasi tersendiri bagi kami, melihat betapa warga sudah mulai bangkit dari keterpurukan akibat erupsi yang terjadi. Sebagaimana dituturkan kepala dusun, warga Dusun Petung sedang mempersiapkan diri untuk berpindah ke hunian tetap. Dalam satu tahun ke depan, diharapkan warga sudah bisa menempati rumah seluas 6×6 meter yang telah disediakan pemerintah serta tanah seluas 100 meter untuk bercocok tanam. Hunian baru ini berada kurang lebih 4 kilometer dari Dusun Petung yang lama.

Hari ini, Senin 16 Juli 2012 tim dari Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (PPPM) STPN menyiapkan 1000 bibit jahe yang diberikan secara simbolis kepada warga di dusun Petung. Bibit jahe ini merupakan bagian dari komitmen Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional untuk memberikan sumbangsih pada kondisi ekologi merapi yang rusak pasca terjadinya erupsi. Bibit jahe sengaja dipilih karena wargalah yang menginginkannya. Bibit jahe diharapkan dapat menjadi salah satu sumber mata pencaharian alternatif yang bisa diandalkan. Selain memiliki masa panen yang pendek, jahe diharapkan dapat menghidupkan kembali aktivitas Kelompok Wanita Tani Cipto Makmur yang sempat terhenti sejak terjadi erupsi.

Kegiatan Revegetasi Tanah-Tanah Kritis pada pagi ini dipandu langsung oleh tim dari STPN dengan detail susunan acara sebagai berikut:

Tabel 1. Jadwal Acara Revegetasi Tanah-Tanah Kritis

Waktu

Acara

Pemandu

10.00-10.05

Pembukaan MC (Nuraini Aisyiah, S.SiT., MT.)

10.05-10.15

Sambutan dari STPN Drs. Sukayadi, M.H.

10.15-10.30

Sambutan dari perangkat desa/perwakilan kelompok Tani Wanita Perangkat desa/perwakilan Kelompok Tani

10.30-10.45

Revegetasi Tanah-Tanah Kritis sebagai bagian Pemulihan Ekologi Merapi Ir. Slamet Muryono,  M.Eng. Sc

10.45-11.00

Pemanfaatan Jahe sebagai sumber pendapatan alternatif Dwi Wulan Titik Andari, A. Ptnh, M.Pd & Mujiati, S.SiT.M.Si.

11.00-11.30

Diskusi dan Tanya Jawab MC

11.30-11.45

Penyerahan dan penanaman bibit jahe secara simbolis Arief Syaifullah, ST., MT

12.00-12.30

Penutupan Drs. Sukayadi, M.H.

 

Kegiatan berjalan dengan suasana kekeluargaan yang santai. Bahasa Jawa halus dan campur-campur yang diselingi sedikit guyonan, memecah keheningan kebun yang menjadi tempat pertemuan kami.   Ibu-ibu dari Kelompok Wanita Tani mengikuti kegiatan dengan antusias.

 

I. Ketika Harus Mengungsi

Dusun Petung adalah salah satu dusun di lereng Merapi yang terkena dampak erupsi cukup parah. Dusun yang berada 5 kilometer dari puncak Merapi ini, sekarang lebih sering disebut sebagai ‘Dusun Petung Asli’. Istilah ini digunakan untuk membedakan dengan shelter yang menjadi hunian sementara mereka yang sekarang disebut dengan istilah Dusun ‘Petung palsu’. Sejak terjadi erupsi dua tahun lalu, Petung sudah tidak lagi dihuni oleh warga. Dusun ini sekarang hanya difungsikan sebagai lahan bercocok tanam bagi warga yang dikunjungi sesekali khususnya pada siang hari. Pada malam hari warga akan kembali ke shelter yang berjarak sekitar 4 kilometer. Puing-puing tembok, kayu-kayu sisa rumah yang sebagian menghitam serta lembaran-lembaran atap yang sudah tidak utuh lagi, menjadi pemandangan yang jamak dijumpai. Dusun Petung sekarang sudah berubah menjadi dusun sunyi yang diselimuti abu merapi. Angin yang bertiup agak kencang maupun jejakan kaki yang agak keras, dengan mudah menerbangkan abu-abu ini menjadi kabut debu yang membuat udara menjadi pekat.

Tinggal di pengungsian menjadi beban tersendiri bagi warga Dusun Petung. Rumah-rumah di ‘Hunian Sementara’ atau huntara, tidak memungkinkan warga untuk bisa melanjutkan mata pencahariannya sebagai petani. Ketiadaan lahan adalah salah satu kendala yang membuat warga dusun Petung yang notabene petani ini menjadi kehilangan kesibukan. ‘Nglangut’ atau bosan adalah kata yang digunakan pak Dukuh untuk melukiskan betapa warga sangat merindukan aktivitas bercocok tanam seperti dulu. Sebagaimana dituturkan pak Dukuh, 95% warga dusun Petung adalah petani peternak yang mengandalkan sumber penghidupan utama dari pertanian dan sapi. Erupsi telah merusak tanah-tanah pertanian milik petani dan membuat warga harus merelakan sapi-sapinya untuk dijual dengan harga yang murah. Tak hanya kehilangan kesibukan, warga juga menjadi kerepotan melanjutkan aktivitas bercocok tanamnya karena masalah ‘jarak’. Posisi ‘huntara’ yang berada di desa Wukirsari dengan tanah pertanian yang berada di dusun Petung Lama, mengharuskan warga untuk menempuh perjalanan yang cukup jauh. Kondisi ini cukup menyulitkan terutama bagi kelompok lansia Dusun Petung yang jumlahnya ada sekitar 30%. Kelompok lanjut usia ini biasanya akan pergi ke kebun apabila ada ‘bantuan transportasi’ atau berboncengan dengan kendaraan.

Seperti jamak dialami dusun-dusun lain yang terkena dampak erupsi, dusun Petung juga mendapat banyak bantuan. Salah satu bantuan yang diperoleh adalah bibit mahoni. Sayang sekali mahoni baru bisa dipanen setelah berumur 6 atau 8 tahun. Ini berarti warga masih harus bersabar menunggu untuk bisa menikmati manfaat dari pohon-pohon mahoni yang mereka tanam. Kehadiran bibit jahe yang dibawa oleh tim pengabdian masyarakat PPPM STPN seolah menjadi oase yang diharapkan mampu menjawab kebutuhan warga dalam jangka pendek. Bibit jahe yang ditanam sekarang ini, diharapkan sudah bisa dipanen dan dinikmati hasilnya satu tahun mendatang (12 bulan). Jahe menjadi salah satu alternatif selama menunggu panen mahoni yang baru bisa dilakukan 5 tahunan ke depan. Warga berharap agar bantuan bibit jahe ini menjadi bantuan yang berkelanjutan yang bisa diteruskan sampai ke anak cucu. Tidak seperti bantuan uang yang akan habis dalam waktu sekejap, jahe diharapkan mampu memiliki manfaat jangka panjang.

Bantuan bibit jahe kali ini diberikan kepada Kelompok Wanita Tani ‘Cipto Makmur’. Kelompok Wanita Tani di Dusun Petung dibagi per-RT. Setiap RT memiliki kelompok tani sendiri. Biasanya satu kelompok tani memiliki 20-an anggota. Aktivitas pertanian sebagian diusahakan di tanah kas desa dan sebagian lagi di tanah-tanah milik pribadi yang direlakan untuk kelompok. Sebelum ada bibit jahe, Kelompok Wanita Tani sebenarnya sudah mengusahakan tanaman pisang. Meskpiun ditanam ditanah yang bertabur debu dan pasir, ternyata pisang bisa tumbuh dengan subur tanpa harus dipupuk.

 

II. Revegetasi Tanah-Tanah Kritis Sebagai Bagian Pemulihan Ekologi Merapi

Berkaitan dengan tema ‘Revegetasi Tanah-Tanah Kritis sebagai Bagian Pemulihan EKologi Merapi’,  Ir.Slamet Muryono, M.Eng memberikan materi mengenai Teknik Penanaman dan Pemeliharaan Jahe.  Warga Dusun Petung, sebenarnya dulu sudah pernah menanam jahe. Bibit jahe juga berasal dari bantuan yang datang ke dusun ini. Sayang sekali, bibit diberikan ‘omprokan’ tidak dalam media tanam (polibag), sehingga bibit jahe tidak dapat bertahan lama dan busuk semua. Pengalaman ini masih terrekam jelas dalam ingatan warga Dusun Petung.

Mengenai teknik penanaman, jahe sebaiknya ditanam di bedengan (gulutan). Apabila disebarkan dan dibiarkan tumbuh begitu saja, jahe akan membusuk. Tanah yang akan ditanami bibit jahe juga sebaiknya dicangkul dua kali supaya tanah bisa bernafas (gembur).  Cara pencangkulan pun diupayakan agar mengikuti kontur tanah supaya tidak melorot, karena akan membuat tanaman menjadi busuk. Setelah menjadi gembur, tanah didiamkan dulu selama satu sampai dua minggu, tidak langsung langsung ditanami. Setelah tanah didiamkan selama satu sampai 2 minggu, baru kemudian dipupuk. Pupuk yang paling baik di daerah pegunungan adalah pupuk kandang (kotoran sapi). Pupuk dicampur dengan tanah, selanjutnya didiamkan dulu supaya bagus, baru kemudian dibuat lubang-lubangnya.

Ketika menanam bibit jahe, bagian tunas, mata atau tukulan harus berada di atas. Seringkali dijumpai, meskipun sudah tumbuh, kadang tunas atau mata jahe berada di bawah, sehingga ketika ditanam tidak dapat bertahan lama dan pasti membusuk. Tunas atau mata jahe paling bagus berada di atas agar terkena matahari.

Bibit jahe ditanam dengan jarak tanam antara 10-20 cm. Yang terpenting, tanaman jahe tidak bisa tergenang air karena pasti akan membusuk. Oleh karena itu, ketika menyiram, diupayakan agar air tidak sampai tergenang. Meskipun demikian, tanaman jahe tetap membutuhkan air, sehingga bedengan dibuat agak miring (50 cm) supaya kalau ada hujan tidak hilang semua.

Usai ditanam, bibit jahe harus terys dipelihara, disiangi, digemburkan (didangir), supaya rumput-rumputnya hilang dan akar-akarnya bisa menyerap matahari. Setelah berumur 12-20 bulan jahe sudah bisa dipanen. Hasil panenan jahe tergantung pemeliharaan (penyiangan, pemupukan, pengairan).  Agar bisa memberikan manfaat yang lebih berkelanjutan, ketika memanen jahe tidak dihabiskan semu. Sebagian jahe sebaiknya disisihkan untuk bibit. Setelah jahe dipanen, tanah bisa diolah dan ditanam lagi.

 

III. Pemanfaatan Jahe sebagai Sumber Pendapatan Alternatif

Setelah memberikan materi mengenai teknik penanaman dan pemeliharaan tanaman jahe, Dwi Wulan Titik Andari, A. Ptnh, M.Pd & Mujiati, S.SiT.M.Si. melanjutkan dengan materi mengenai ’Pemanfaatan Jahe sebagai Sumber Pendapatan Alternatif’.  Dalam kesempatan ini, warga dikenalkan dengan dua jenis olahan jahe yaitu ’wedang uwuh’ dan ’gujahe’ (gula jahe). Kedua teknik pengolahan jahe ini merupakan upaya untuk bisa meningkatkan harga jual jahe selain jahe yang khusus disisihkan untuk bibit dan yang dijual dalam bentuk umbi.

Wedang uwuh adalah salah satu jenis minuman yang sebenarnya lebih populer di wilayah Imogiri, Bantul. Jenis minuman ini pertama kali dipopulerkan sebagai minuman khas bagi peziarah yang berkunjung ke makam raja-raja Imogiri.  Selain dipercaya membawa berkah, minuman yang salah satu bahan racikannya berasal dari guguran daun-daun yang jatuh di sekitar makam ini juga dipercaya dapat bermanfaat untuk kesehatan (penghangat tubuh dan obat batuk).

Dalam racikan wedang uwuh, jahe merupakan salah satu bahan utama selain gula batu, daun cengkeh dan kulit secang. Apabila kulit secang tidak ada, bisa digantikan dengan serai. Sebelum menjadi salah satu racikan dalam wedang uwuh, jahe dicuci dan dijemur dulu supaya bersih. Setiap kemasan dijual 1500 sampai 2000, kalau sudah berwujud minuman harganya bisa sampai 4000. Cara minumnya, jahe dibakar (dikeprak) lalu diseduh atau direbus.

Selain racikan wedang uwuh, manfaat lain jahe juga bisa dibuat gujahe atau ‘gula jahe’. Cara pembuatannya relatif mudah, seperti mendaur ulang. Cara membuatnya gula jawa/gula merah direbus/dicairkan lalu diberi parutan jahe, diaduk-aduk, lalu dicetak lagi menjadi gula. Gula jahe bisa  untuk minuman. Jahe dikira-kira jangan terlalu banyak. Jahe diparut dan diperas, tidak memakai ampasnya. Mencetaknya jangan terlalu besar, kecil-kecil saja, dibuat untuk satu gelas.

 

IV. Harapan untuk Masa Depan di Merapi

Setelah penyampaian materi, warga yang hadir diberi kesempatan untuk berdiskusi. Salah satu pertanyaan yang muncul adalah mengenai cara pemupukan yang baik. Dalam hal ini, narasumber menjelaskan bahwa pemupukan dilakukan ketika mengolah tanah saat menanam. Pemupukan yang baik sebenarnya melihat pada pertumbuhan jahe, kalau pertumbuhannya kurang bagus baru dipupuk lagi. Lebih bagus kalau dengan pupuk kandang, karena pupuk pabrik biasanya terlalu keras.

Ada harapan yang sekilas muncul pasca pemaparan mengenai penanaman dan pengolahan jahe. ‘Wah moga-moga simbah saged nggih praktek’, (wah semoga saya bisa mempraktekannya) itulah salah satu komentar yang dimunculkan salah seorang nenek yang cukup renta yang menjadi anggota Kelompok Tani Wanita Cipto Makmur. Tidak sabar untuk menunggu masa panen satu tahun ke depan dan diberikan umur panjang untuk bisa ikut berpartisipasi mengolah jahe, demikian ungkapnya.

Acara ‘Revegetasi Tanah-Tanah Kritis’ pun akhirnya ditutup dengan penyerahan bibit jahe yang dilakukan oleh Arief Syaifullah, ST., MT dan dilanjutkan dengan penanaman bibit secara simbolis. Ada satu harapan besar yang muncul dari warga bahwa kegiatan revegetasi ini akan terus berkelanjutan. Musim kering dan belum datangnya hujan merupakan hambatan tersendiri bagi warga. Warga berharap agar hujan segera datang dan menumbuhkan bibit-bibit jahe yang ditanam untuk bisa sedikit memberikan tambahan sumber kesejahteraan. Merapi sudah pulih kembali dan inilah yang muncul dari potret semangat dan kepercayaan diri warga Dusun Petung. STPN pun tidak akan melepas kegiatan ini begitu saja. Monitoring dan komunikasi tetap akan dijalin dengan baik agar visi dari kegiatan ‘Revegetasi ini tidak hanya seperti kunjungan ‘Sinterklas’ yang datang membawa sekarung penuh bingkisan dan kemudian pulang. Revegetasi ini menjadi pintu masuk bagi STPN untuk bisa terus membangun komitmennya dalam memberikan kemanfaatan yang seluas-luasnya bagi masyarakat.

 

B. Gerakan 1000 Buku untuk Anak Merapi: Potret Semangat Anak-Anak di Shelter Gondang I

Debu yang beterbangan akibat truk yang berlalu lalang membawa material pasir dari Merapi mengiringi perjalanan kami menuju tempat pelaksanaan Kegiatan ‘Peduli Pendidikan Merapi’. Jam menunjukan pukul 13.00 saat kami mulai memasuki jalan setapak yang tidak rata menuju shelter Gondang 1. Pohon-pohon besar di sekeliling jalan setapak, sekilas menandakan bahwa pernah ada hutan sebelum semuanya berganti dengan deretan rumah berdinding bambu yang sekarang ditempati oleh warga pengungsian Merapi. Ternyata inilah arsitektur rumah yang selama ini dimunculkan media sebagai arsitektur yang mengusung ‘cirikhas lokal’.  Deretan rumah-rumah yang terbuat dari anyaman bambu berjajar rapi menghadap ke jalan setapak yang diperkeras dengan semen. Terlihat papan kecil bertuliskan nomor dan nama pemilik rumah yang digantung di depan pintu. Shelter di Gondang merupakan jenis couple dimana satu shelter dihuni dua kepala keluarga dengan luas 12×12 meter, beratap seng dan dinding anyaman bambu. Lingkungan shelter juga dibangun fasilitas umum seperti tempat ibadah, lapangan olahraga, ruang pertemuan dan PAUD. Rombongan STPN pun berhenti di depan masjid yang berada tidak jauh dari pintu masuk utama shelter Gondang 1.

….

Walau apapun yang terjadi, semangat tetap di hati,

Karena hari esok milik kita, bangkit bersama lupakan derita,

wujudkan mimpi menjadi nyata, harapan itu selalu ada

….

Itulah sekilas lirik lagu ‘Mars Anak Merapi’ yang dinyanyikan oleh anak-anak dampingan Sekolah Pintar Merapi ketika kami datang mengunjungi mereka di Shelter Gondang I, Desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. Shelter Gondang 1 merupakan salah satu shelter atau lebih sering disebut dengan hunian sementara bagi korban erupsi Merapi. Shelter ini dihuni oleh warga yang berasal dari dusun-dusun diantaranya: Kaliadem, Petung, Jambu, dan Pagerjurang. Anak-anak yang baru saja pulang sekolah ini tampaknya memang sudah mengetahui rencana kedatangan kami. Sebagian dari mereka segera berlarian ke rumahnya masing-masing untuk berganti baju.

Sekolah Pintar Merapi (SPM) merupakan salah satu lembaga non profit yang bergerak dalam program pemulihan pendidikan sebagai salah satu upaya penuntasan permasalahan dari dampak erupsi Merapi. Sekolah Pintar Merapi telah melakukan pendidikan bagi korban erupsi Merapi sejak erupsi pertama tanggal 26 Oktober 2010. Melalui SPM inilah, STPN berupaya untuk bisa mendukung program perpustakaan masyarakat atau perpustakaan berbasis kampung yang sedang dikembangkan. Keberadaan perpustakaan ini bertujuan untuk mendukung, memfasilitasi, mendampingi dan memotivasi masyarakat korban bencana erupsi agar dapat meningkatkan budaya mambaca.

Saat ini Sekolah Pintar Merapi memiliki dua perpustakaan yaitu satu perpustakaan yang berada di Shelter Gondang I dan satu perpustakaan lagi berada di Desa Umbulharjo. Dua perpustakaan ini merupakan pusat kegiatan yang dimanfaatkan oleh anak-anak untuk bisa mengisi waktu dengan membaca. Perpustakaan yang berada di Desa Umbulharjo lebih berkembang dibandingkan dengan perpustakaan di Shelter Gondang 1. Perpustakaan di Shelter Gondang 1 masih merupakan perpustakaan rintisan yang bahkan rak buku pun belum tersedia.

Dalam Gerakan 1000 Buku ini, STPN memberikan sumbangan buku sejumlah 750 eksemplar. Buku-buku ini merupakan hasil penggalangan dari para donatur baik yang berasal dari internal STPN maupun dari luar. Jenis buku yang disumbangkan beragam dari mulai buku pelajaran, buku cerita, komik, majalah sampai ensiklopedi. Melalui sumbangan buku-buku ini, diharapkan agar rintisan perpustakaan di shelter Gondang 1 dapat berkembang. Meskipun direncanakan bahwa tahun depan, warga di shelter Gondang sudah dipindahkan ke huntap atau hunian tetap, perpustakaan binaan Sekolah Pintar Merapi ini akan tetap ada untuk menjadi fasilitas pendukung pendidikan bagi anak-anak merapi.

Tabel 2. Rekapitulasi Donasi Buku untuk Merapi

No

Jenis Buku

Jumlah

1

Buku Pelajaran SD

145

Eksemplar

2

Buku Pelajaran SMP

55

Eksemplar

3

Buku Pelajaran SMA

29

Eksemplar

4

Buku Pengetahuan Umum (serba serbi)

30

Eksemplar

5

Buku Mewarnai

23

Eksemplar

6

Ensiklopedia

18

Eksemplar

7

Buku cerita anak berbahasa indonesia

208

Eksemplar

8

Buku cerita anak berbahasa inggris/dwi bahasa

26

Eksemplar

9

Majalah anak-anak dan umum

92

Eksemplar

10

Komik Anak

125

Eksemplar
Di tambah dengan buku dan alat tulis sekolah
  TOTAL

751

Eksemplar

 

Acara ramah tamah dengan anak-anak dampingan Sekolah Pintar Merapi dilaksanakan di Mushola Maulana yang merupakan Islamic Centre Merapi. Acara dipandu langsung dari tim STPN dengan detail acara sebagai berikut:

Tabel 3. Jadwal Acara ‘Gerakan 1000 Buku untuk Anak Merapi’

Waktu

Acara

Pemandu

13.15-13.30

Pembukaan dan Perkenalan MC (Relawan SPM)

13.30-13.45

Sambutan dari SPM Direktur SPM (Pidi Winata)

13.45-14.00

Sambutan dari STPN Drs AH Farid, M.Si

14.00-14.30

Ramah Tamah dengan Anak-Anak Dampingan SPM Relawan SPM dan Nuraini Aisyiah,S.SiT., MT./ Arief Syaifullah, ST., MT

14.30-14.40

Penyerahan Simbolis Buku-Buku dari STPN Dwi Wulan Titik Andari, A. Ptnh, M.Pd/ Rakhmat Riyadi, S.Si, M.Si

14.40-15.00

Penutupan (foto bersama) Drs. Sukayadi, M.H/ Drs AH Farid, M.Si

 

 

C. Simpulan

            Kegiatan pengabdian masyarakat merupakan wujud dari tri dharma perguruan tinggi. Pengabdian masyarakat menjadi satu titik penting, karena disinilah sebenarnya semua pencapaian yang telah diperoleh dari pengajaran dan penelitian, dikembalikan untuk bisa memberikan manfaat yang seluas-luasnya kepada masyarakat. Sudah menjadi tanggungjawab moral bagi Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional untuk menyemaikan semangat berbagi melalui kegiatan pengabdian masyarakat.

            Kegiatan ’Revegetasi Tanah-Tanah Kritis’ dan ’Gerakan 1000 Buku’ memberikan pembelajaran dan pengalaman berharga bagi STPN. Secara langsung kita bisa melihat bagaimana warga merapi yang terpuruk pasca erupsi, saat ini sudah mulai bangkit kembali. Pengalaman duduk dan mendengarkan keluh kesah mereka, memberikan kesan betapa mereka rindu untuk ’diperhatikan’. ’Diperhatikan’ disini bukan diartikan selalu menengadahkan tangan menanti bantuan, melainkan sebuah harapan bahwa mereka dilihat sebagai sosok-sosok yang mandiri. Dinamika bantuan di Merapi yang mereka terima selama ini, pada kenyataannya memang sedikit menggerus sisi-sisi kebersamaan, dan memunculkan kecemburuan sosial. Meskipun demikian, keberdayaan masyarakat Merapi belum pupus. Harapan terus dibangun dari hari ke hari. Proses kepindahan ke hunian tetap adalah salah satu jawaban dari harapan yang selama ini selalu mereka hidupi selama tinggal di pengungsian sampai di hunian sementara (shelter). STPN berharap sedikit uluran dari kegiatan ’Revegetasi Tanah-Tanah Kritis’ dan ’Gerakan 1000 Buku’ ini dapat menjadi pemantik dan pendorong semangat bagi masyarakat Merapi khususnya di Dusun Petung dan anak-anak di Shelter Gondang untuk terus melangkah, menatap masa depan, membangun kehidupan yang lebih baik.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *
*

Related Story